internet marketing, e-learning, web design, blogging, cms
18 Jul
Bandung - Orang yang berkecimpung di dunia teknologi informasi (TI) memang tak bisa dipungkiri adalah orang-orang pilihan yang punya tingkat intelejensia tinggi. Namun sayangnya, mereka bak hidup di dunianya sendiri.
Maksudnya hidup di dunia sendiri, tak lain karena orang-orang TI punya bahasa teknis yang hanya dimengerti oleh orang TI saja. Bagi masyarakat umum, mungkin tak semua orang bisa memahami.
Masalahnya, kata Chief Sharing Vision Dimitri Mahayana, orang-orang TI ini kerap tak sadar. Saat berinteraksi dengan orang lain di luar lingkup profesinya, mereka masih menggunakan bahasa teknis yang rumit nan kompleks.
“Entah karena budaya atau mungkin ego sektoral, sering kali penggunaan bahasa yang terlalu teknis sulit untuk dipahami oleh pihak lain,” paparnya kepada detikINET di sela sesi acara Sharing Vision ‘IT Estimation’, di Bandung, Sabtu (17/7/2010).
Tak hanya dalam kehidupan sosial sehari-hari, situasi ini juga kerap terjadi saat divisi TI hendak membuat rencana investasi ataupun pengadaan perangkat. Padahal, selain divisi TI, banyak pihak lain yang juga berkepentingan. Mulai dari pihak internal seperti divisi keuangan, divisi pelayanan, hingga pihak eksternal semacam BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) atau malah KPK (Komisi Pemberantas Korupsi).
Celakanya, lanjut Dimitri, hal ini justru bisa menciptakan blunder. Pasalnya, mengacu pada fakta di lapangan, ada sejumlah kasus korupsi yang bermula dari tidak sejalannya pemahaman antara divisi TI dengan divisi lainnya.
“Seyogyanya, begitu akan melakukan pengadaan, harus dipastikan semua divisi menerima laporan rencana investasi TI dan paham dengan apa yang dimaksud. Istilahnya, buatlah plain languange, atau pelaporan dengan bahasa populer yang mudah dimengerti semua kalangan,” saran dia.
Tips ini hanya salah satu cara untuk menangkal munculnya mispersepsi di kemudian hari, tentang proses pengadaan barang yang secara natural memang sensitif. Apalagi pengadaan perangkat lunak dan perangkat keras di TI memiliki keunikan yang jauh berbeda.
“Bisa saya pastikan, karakter pengadaan TI itu 100 kali lipat lebih rumit, kompleks, dibandingkan pengadaan barang-barang lainnya. Jadi, sebagai teknisi, kita harus merancang secara detil dan matang sedari awal,” pungkasnya.( rou / rou ) Sumber : http://www.detikinet.com/read/2010/07/17/160541/1401279/398/terlalu-teknis-orang-ti-bisa-blunder/?i991103105
25 May
BlackBerry, My Everything!
Oleh Hanni Christania
”And in this crazy life, and through these crazy times
It’s you, It’s you, You make me sing.
Youre’re every line, you’re every word, you’re everything”[1]
(Michael Buble-Everything)
Ada yang menarik dalam Harian Kompas tertanggal 8 Juni 2009 lalu. Bukan pemberitaan tentang konflik besar, melainkan kolom sosok seorang Mike Lazaridis, pendiri BlackBerry. Untuk membuka wawancaranya dengan Kompas, Mike tidak menjabarkan sejarah teknologi ciptaannya tersebut. Dia lebih memilih untuk mengungkapkan data pasti mengenai kesuksesan BlackBerry, ”Saat ini jumlah subcriber BlackBerry ada 25 juta orang”.[2] Suatu cara yang unik sekaligus efektif untuk menggambarkan bahwa BlackBerry telah berhasil mengambil bagian dalam budaya berkomunikasi kalangan masyarakat tertentu.
Jumlah 25 juta di atas mungkin tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dunia yang mencapai lebih dari 6 miliar jiwa manusia. Indonesia sendiri dinyatakan sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna BlackBerry tertinggi di wilayah Asia Pasific[3]. Bahkan ada perkiraan bahwa di akhir 2009, angka pengguna akan menembus 1 juta orang [4]. Data tersebut boleh jadi cukup mengusik, jika anda mau meluangkan sedikit waktu untuk mengamati kenyataan penggunaan BlackBerry di tengah-tengah masyarakat Indonesia, atau dapat kita persempit menjadi kaum perkotaan di Jakarta.
***
BlackBerry hadir menawarkan bentuk komunikasi yang lebih variatif. ”Connect to everything you love in life”[5], nampaknya tagline ini tidak berlebihan. Ya, BlackBerry menawarkan koneksi tanpa batas untuk seluruh kebutuhan penggunanya. Tidak hanya kebutuhan untuk berkomunikasi antar personal seperti pesan singkat dan panggilan suara, lebih dari itu si pengguna dapat berhubungan dengan dunia yang lebih luas lewat layanan internet cepat dan mudah kapan saja dan dimana saja. Singkatnya, BlackBerry membuat penggunanya “menggenggam dunia”, karena bisa mendapatkan informasi lewat genggaman tangan.
Keunggulan ini, bagi sebagian kalangan merupakan jawaban dari tuntutan rutinitas pekerjaan. Seorang teman merasa sangat terbantu dengan kehadiran BlackBerry dalam hari-harinya. Pekerjaan yang tidak mengenal waktu, biasanya membuat dia harus berlama-lama di kantor sampai tengah malam untuk membalas e-mail kliennya yang tak bisa ditunda. BlackBerry-lah yang kemudian dapat memberikannya keleluasaan untuk pulang ke rumah tepat waktu, jam 5 sore. Soal email bisa dibalas kapan saja dan dari mana saja. 24 jam 7 hari, sang BlackBerry siap menemani.
Tetapi ternyata kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh BlackBerry tidak lagi sesederhana fungsi komunikasi. Seorang teman yang lain mengaku menggunakan gadged fenomenal ini untuk eksistensi dirinya di dunia maya. Dia rutin menggunakan BlackBerry-nya untuk mengakses berbagai situs jejaring sosial dan chatting room. Melihat kebutuhannya sebagai anak SMA, nampaknya tuntutan tugas bukanlah alasan utama untuk memiliki sebuah BlackBerry. Buktinya saat diingatkan BlackBerry dapat membantunya mengerjakan tugas sekolah, begini jawabnya, “”Ah, kalau itu mah‘ enakan pakai komputer rumah, Mba..”. Atau sebuah contoh lain, ketika seorang teman membeli BlackBerry untuk “dipajang”, sedangkan untuk melakukan panggilan ataupun mengirim pesan, Ia mengandalkan handphone lamanya yang bahkan layarnya belum berwarna.
***
Terlepas dari untuk tujuan apa BlackBerry digunakan, keberadaannya juga mulai menggeser perilaku individu dalam lingkungan sosial. Sebagai contoh mari kita coba lihat perilaku penumpang kereta listrik yang kebanyakan merupakan para pekerja yang berkantor di Jakarta, namun bertempat tinggal di kota-kota satelit Jakarta.
Masih teringat jelas, setahun lalu, sebelum BlackBerry menjadi wabah di kalangan menengah ke atas, KRL (Kereta Rel Listrik) Ekspress suasananya tidak terlalu jauh dari KRL Ekonomi, masih riuh dengan suara obrolan di kiri-kanan. Para pekerja tersebut kebanyakan sibuk bercengkrama dengan teman satu kereta, dari perbincangan seputar pekerjaan sampai masalah anak bagi ibu-ibu. Namun sejak BlackBerry laris manis seperti kacang goreng, KRL Ekspress menjadi lebih sepi, orang-orang sibuk dengan mainan baru di tangan masing-masing. Interaksi langsung dengan orang sekitar praktis hanya terjadi sesekali. Ya, BlackBerry mulai membuat individu dominan dengan hakikatnya sebagai mahkluk pribadi, dimana relasi sosial langsung mulai divirtualkan.
Kenyataan ini sebenarnya telah disadari oleh beberapa pihak. Jika anda memiliki kesempatan, cobalah search di Facebook, jaringan sosial populer saat ini, dengan kata kunci ”Anti BlackBerry”, akan keluar 18 profile page yang berjudulkan kata kunci tersebut. Atau ganti kata kunci dengan ”Say No to BlackBerry”, maka akan terlihat 8 page yang berbunyi serupa. Page tersebut berisi berbagai kritikan yang menganggap keberadaan BlackBerry justru mengganggu relasi sosial dan kontrol diri individu. Simaklah sebuah kutipan deskripsi dari salah satu grup, “group ini menentang autisme akibat blackberry: kutak-katik blackberry saat pacar lagi ngajak ngobrol, baca2 e-email saat diomelin boss, duduk di toilet berjam-jam bersama blackberry, senyum-senyum sendiri, selalu bekerja tiap weekend, masih e-mail keperluan kantor saat pulang ke rumah, dan tidur sambil memeluk blackberry…”[6]
***
Dampak sosial diatas akan terlihat sebagai pelengkap jika kita mau melihat dalam lingkup yang lebih luas. Fenomena BlackBerry hanya sebuah contoh kecil dari derasnya arus kebudayaan massa atau kebudayaan popular sekarang ini. Contoh lainnya dapat kita sebut seperti serbuan situs jejaring sosial, merek-merek fashion asing, kedai makanan cepat saji, game online dan lain-lain.
Yang kemudian perlu diwaspadai adalah pola konsumerisme yang terbentuk dari adanya kebudayaan popular. Dengan pengguna yang bersifat masif, budaya ini sangat menggiurkan bagi para produsennya karena dapat mendatangkan keuntungan besar. Efek ketergantungan karena merasa membutuhkan instrumen kebudayaan popular terus menerus menjadi tanda awal yang harus segera disikapi. Dari ketergantungan ini lah diharapkan permintaan pasar terhadap produk budaya populer dapat terus meningkat.
Ignatius Haryanto, seorang pengamat media dan kajian kebudayaan dalam salah satu tulisannya juga menyebutkan suatu dampak yang harus diwaspadai dari keberadaan budaya popular ini yaitu pengidentifikasian kepribadian seseorang berdasarkan produk-produk yang dipakainya,
” Bagaimana pun juga sebagai bagian dari mass culture, maka banyak kaum remaja akan menimbang dirinya dan menilai orang lain dari brand yang mereka kenakan. Jika mereka tak mengenakan brand yang sedang hits, mohon maaf kalau disebut ‘nggak cool’, ‘old fashioned’ atau ‘nggak matching’… Tanpa merek terkenal ini, seolah mereka ini bukan (si)apa-apa”[7].
Hal ini pula yang kemudian menjadikan banyak orang berstatus follower alias ikut-ikutan semata tanpa tahu apa yang dia ikuti. Dan golongan ini lah yang menjadi ”sasaran empuk” para produsen kebudayaan popular.
Sebagai suatu kesimpulan sederhana dari tulisan ini, sebuah kebudayaan populer nyatanya tidak menjual produk melainkan sebuah gaya hidup yang dibentuk sedemikian rupa sehingga para penggunanya secara sadar atau tidak sadar dengan sukarela menjadi konsumen aktif demi image yang ditawarkan. Ketika dengan memiliki BlackBerry orang dianggap bisa semakin terbuka wawasannya, karena dengan mudahnya mendapatkan informasi dari mana saja dan kapan saja, sebenarnya di sisi lain si pengguna menjadi tertutup matanya dengan kenyataan bahwa dia adalah korban dari komersialisasi budaya populer. Akhirnya, saya akan mengutip pernyataan Bre Redana yang dengan lihainya menyimpulkan semua keprihatinan diatas menjadi demikian,
”Siklusnya secara sederhana begini: kehidupan diubah menjadi konsumsi, konsumsi menjadi makna, makna menjadi fantasi, fantasi menjadi realitas, realitas menjadi virtual reality alias realitas semu, dan melengkapi siklus itu realitas semu kembali menjadi kehidupan. Akhirnya perbedaan antara realitas dan realitas semu atau fiksi atau fantasi tak ada lagi batasnya”[8]
Kalau sudah demikian rasanya pas untuk berkata, “BlackBerry is My Everything!”
—————-
[1] Kutipan refrain lagu ”Everything”, yang dipopulerkan oleh Michael Buble
[2] “Mike Lazaridis, sang pendiri BlackBerry”, Harian Kompas. 8 Juni 2009, hal 16
[3] Menurut RIM, perusahaan penyedia layanan BlackBerry. Majalah Chip Online (http://www.chip.co.id/gadgets/pertumbuhan-blackberry-di-indonesia.html)
[4] Pernyataan Teguh Prasetya, Group Head Brand Marketing PT Indosat Tbk. (http://www.mallponsel.com/blog/berita/pengguna-blackberry-bakal-capai-1-juta.html)
[5] Tagline BlackBerry dalam websitenya. (www.blackberry.com)
[6] Diambil dari Group “anti autisme akibat BlackBerry” di Facebook (http://www.facebook.com/group.php?sid=e0d701ea23f6e4a264e2ac4430bfb87e&gid=54520233173&ref=search)
[7] Ignatius Haryanto dalam tulisan berjudul “Budaya Populer, Anak Mudan dan Keprihatinan Masalah Bangsa.”, disampaikan pada forum diskusi KOMJak, 30 Mei 2009
[8] Bre Redana, “Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa”, LSPP. 2002
Sumber : http://komjakarta.org/blackberry-my-everything.html
16 Feb
nh, Selasa, 16 Februari 2010 diselenggarakan Workshop Pengelolaan Website Unit Kerja di UNSOED kerjasama antara Tim Promosi UNSOED dengan UPT. Puskom UNSOED.
1 Jan
Rilis Windows Ultimate Tweaker kami v 2.0 untuk Windows 7 dan Windows Vista. Ultimate Tweaker Windows TweakUI merupakan freeware Utility untuk tweaker dan mengoptimalkan Windows 7 & Windows Vista, 32-bit & 64-bit. Hanya dapat di-download dan digunakan sebagai aplikasi portabel untuk menyesuaikan Windows Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda. Dengan bijaksana tweaker, dapat membuat sistem anda lebih cepat, lebih stabil, dan lebih aman hanya dengan beberapa klik mouse. The Tweaker mendeteksi apakah Anda memiliki Windows 7 atau Windows Vista terinstal dan sesuai menawarkan tweak yang relevan saja.
The Tweaker adalah 345KB. Exe file yang tidak memerlukan instalasi, tetapi belum kemasan lebih dari 150 tweak & pengaturan. Cukup download file zip, ekstrak isinya dan menjalankan Windows Ultimate Tweaker. Harap jangan melepaskan Kosong Icon dari executable root, Icon yang kosong akan disalin ke direktori system dan sebagaimana dimaksud pada runtime. Yang Tweaker telah dirancang oleh kolega MVP Ramesh Kumar untuk Windows Club.
Apa yang baru dalam UWT ?
- Revamped UI similar to Windows 7/Vista UI controls
- Improved: Optimize services, enable/disable services and start/stop as well instantly
- Added on System Information page
+ Version with build no
+ System Rating
+ Computer description
- Added on Personalization page
+ Disable Aero shake
+ Disable Aero Snap
+ Enable Jump lits and nos of jump list items
+ Sorted Startmenu with all Windows 7 items
+ Bing Search replaced Live Search in Custom Start Search
+ Use large icons on Taskbar
+ Disable Aero Peek preview
+ Group when Taskbar full is added
23 Dec
Jakarta - Aplikasi internet yang didukung broadband menawarkan peluang yang luar biasa untuk meningkatkan produktivitas suatu negara. Misalnya di dunia pendidikan, kesehatan, pemerintahan dan bisnis. Bagaimana dengan tipe konsumen internet di Indonesia.
Merujuk hasil studi Nokia Siemens Network (NSN) yang dipaparkan di Menara Mulia, Selasa (22/12/2009), ternyata pengguna internet di Indonesia sekarang adalah orang-orang muda dengan kebutuhan internet mobile, yang berubah dari golongan pemula (adopter) ke life style.
Dijelaskan oleh Yohanes Denny, Market Intlejen Unit NSN bahwa rata-rata pengguna internet di Indonesia melakukan akses internet dari rumah, bukan cafe, kantor, atau tempat publik lainnya. Dan dari rumah tersebut mereka menggunakan jenis low akses bandwith terbanyak dari handheld, bukan PC atau laptop.
“Waktu akses internet konsumen Indonesia rata-rata adalah 16% dalam seminggu,sedangkan spending belanja internet adalah 10% dari penghasilan,” ujarnya Denny.
Ditambahkan Denny, dari 16% tersebut kesemuanya dilakukan untuk kebutuhan personal seperti FB, browsing, dan sebagainya. Saat di kantor mereka menggunakan untuk menunjang produktivitas, sementara di luar kantor hanya untuk kebutuhan personal lagi.
Dari studi tersebut ditarik kesimpulan bahwa Indonesia berada di level bawah, karena akses internet sebagian digunakan untuk urusan konsumerisme dan cenderung kurang produktif.
Low Bandwith, Tren Konsumen Indonesia
Denny menjelaskan bahwa koneksi internet bisa dilihat dari 2 sisi yakni jenis low bandwith dan high bandwith. Berdasar data NSN, ternyata masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan tipe low bandwith, karena akses yang dilakukan melalui handheld mereka. “Rata-rata konsumen Indonesia sudah puas dan nyaman dengan bandwith 300 Kbps, karena akses aplikasi melalui handheld berjenis low bandwith,” jelas Denny.
Dari sisi operator mungkin berpikir bahwa kecepatan internet adalah segalanya, karena memungkinkan akses aplikasi web berjenis high bandwith, yang tujuan akhirnya adalah mendapatkan kepuasan konsumen. Sedangkan berdasar data NSN, ternyata kenyamanan adalah hal nomor satu. Dengan membuka aplikasi dari ponsel, berjenis low bandwith rata-rata konsumen sudah puas. Karena puas dengan low bandwith, maka hal ini menjadi kebiasaan mereka untuk ‘ngeksis’ di internet berbekal handheld kesayangan. ( fw / faw ) Sumber : Fajar Widiantoro - detikinet
27 Nov
28 Aug
“solikin -”
milis-aptikom@yahoogroups.com
Barusan saya dapat kabar dari Bpk.Ketua Umum Aptikom (setelah kemaren tgl 20 Agst 2009 bersama2 dg pak Sekjen Aptikom) terbang ke Manado utk mengecek kesiapan STMIK Parnaraya sbg tuan rumah (Host) diperoleh kabar bahwa Rakornas Aptikom 2009 di Manado Insya Allah akan dilaksanakan pada :
tgl 17-19 Nov 2009.
Semoga kita semua dapat berpartisipasi aktif dan dapat menikmati dahsyatnya keindahan Bunaken :
http://www.dephut. go.id/INFORMASI/ TN%20INDO- ENGLISH/tn_ bunaken.htm
http://id.wikipedia .org/wiki/ Pulau_Bunaken
Salam
28 Aug
Undangan pertama dari http://www.darmajaya.ac.id/seminar/index.php, http://home.unpar.ac.id/~snika, UKDW Jogja,
[ikomp-ugm] Internship program at IBM Indonesia
Info Temen-temen, adik-adik, saudara-saudara,
IBM Indonesia membuka lowongan untuk internship program selama 6 - 8 bulan. Program yg khusus diperuntukkan untuk fresh graduate ini berupa in-class learning, individual task, Business unit assignments and Team task/project assignment.
Yang berminat silakan mendaftar di website yg tercantum dalam attachment.
(See attached file: IBM APPRENTICESHIP PROGRAM.jpg)
Best regards,
Rudi Nugroho Yunianto
PT IBM Indonesia
Landmark Tower I - 31st fl.
Jl. Jend. Sudirman no. 1
Jakarta Indonesia
———— ——— ——— ——-
phone : +62-21-5238198
mobile : +62-816-813013
infonet: 61 956-8198
fax : +62-21-2512933
e-mail : yrudi@id.ibm. com
22 Aug
Saya selaku pengelola blog mengucapkan Selamat menunaikan Ibadah Puasa di bulan Ramadhan 1430 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Untuk membekali Ramadhan kali ini, saya sediakan materi-materi, silahkan download.
Khutbah Rasulullah Menjelang Ramadhan khutbah-rasulullah-menjelang-ramadhan
Panduan Ramadhan 1 panduan_ramadhan
Panduan Ramadhan 1 panduanramadhan
Ceramah Ramadhan 1 modul-ceramah-ramadhan
Tanya Jawab Puasa tanya-jawab-puasa
Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1430 H, Mohon Keikhlasannya untuk dapat meMaafkan Lahir Batin atas segala Khilaf Lisan maupun Perbuatan baik yang saya sengaja maupun tidak.
www.nurul.info
Pengelola Web Blog
17 Aug
Pada tahun ini saya menghadiri Malam Tasyakuran HUT RI 64
Recent Comments