internet marketing, e-learning, web design, blogging, cms
25 May
BlackBerry, My Everything!
Oleh Hanni Christania
”And in this crazy life, and through these crazy times
It’s you, It’s you, You make me sing.
Youre’re every line, you’re every word, you’re everything”[1]
(Michael Buble-Everything)
Ada yang menarik dalam Harian Kompas tertanggal 8 Juni 2009 lalu. Bukan pemberitaan tentang konflik besar, melainkan kolom sosok seorang Mike Lazaridis, pendiri BlackBerry. Untuk membuka wawancaranya dengan Kompas, Mike tidak menjabarkan sejarah teknologi ciptaannya tersebut. Dia lebih memilih untuk mengungkapkan data pasti mengenai kesuksesan BlackBerry, ”Saat ini jumlah subcriber BlackBerry ada 25 juta orang”.[2] Suatu cara yang unik sekaligus efektif untuk menggambarkan bahwa BlackBerry telah berhasil mengambil bagian dalam budaya berkomunikasi kalangan masyarakat tertentu.
Jumlah 25 juta di atas mungkin tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dunia yang mencapai lebih dari 6 miliar jiwa manusia. Indonesia sendiri dinyatakan sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna BlackBerry tertinggi di wilayah Asia Pasific[3]. Bahkan ada perkiraan bahwa di akhir 2009, angka pengguna akan menembus 1 juta orang [4]. Data tersebut boleh jadi cukup mengusik, jika anda mau meluangkan sedikit waktu untuk mengamati kenyataan penggunaan BlackBerry di tengah-tengah masyarakat Indonesia, atau dapat kita persempit menjadi kaum perkotaan di Jakarta.
***
BlackBerry hadir menawarkan bentuk komunikasi yang lebih variatif. ”Connect to everything you love in life”[5], nampaknya tagline ini tidak berlebihan. Ya, BlackBerry menawarkan koneksi tanpa batas untuk seluruh kebutuhan penggunanya. Tidak hanya kebutuhan untuk berkomunikasi antar personal seperti pesan singkat dan panggilan suara, lebih dari itu si pengguna dapat berhubungan dengan dunia yang lebih luas lewat layanan internet cepat dan mudah kapan saja dan dimana saja. Singkatnya, BlackBerry membuat penggunanya “menggenggam dunia”, karena bisa mendapatkan informasi lewat genggaman tangan.
Keunggulan ini, bagi sebagian kalangan merupakan jawaban dari tuntutan rutinitas pekerjaan. Seorang teman merasa sangat terbantu dengan kehadiran BlackBerry dalam hari-harinya. Pekerjaan yang tidak mengenal waktu, biasanya membuat dia harus berlama-lama di kantor sampai tengah malam untuk membalas e-mail kliennya yang tak bisa ditunda. BlackBerry-lah yang kemudian dapat memberikannya keleluasaan untuk pulang ke rumah tepat waktu, jam 5 sore. Soal email bisa dibalas kapan saja dan dari mana saja. 24 jam 7 hari, sang BlackBerry siap menemani.
Tetapi ternyata kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh BlackBerry tidak lagi sesederhana fungsi komunikasi. Seorang teman yang lain mengaku menggunakan gadged fenomenal ini untuk eksistensi dirinya di dunia maya. Dia rutin menggunakan BlackBerry-nya untuk mengakses berbagai situs jejaring sosial dan chatting room. Melihat kebutuhannya sebagai anak SMA, nampaknya tuntutan tugas bukanlah alasan utama untuk memiliki sebuah BlackBerry. Buktinya saat diingatkan BlackBerry dapat membantunya mengerjakan tugas sekolah, begini jawabnya, “”Ah, kalau itu mah‘ enakan pakai komputer rumah, Mba..”. Atau sebuah contoh lain, ketika seorang teman membeli BlackBerry untuk “dipajang”, sedangkan untuk melakukan panggilan ataupun mengirim pesan, Ia mengandalkan handphone lamanya yang bahkan layarnya belum berwarna.
***
Terlepas dari untuk tujuan apa BlackBerry digunakan, keberadaannya juga mulai menggeser perilaku individu dalam lingkungan sosial. Sebagai contoh mari kita coba lihat perilaku penumpang kereta listrik yang kebanyakan merupakan para pekerja yang berkantor di Jakarta, namun bertempat tinggal di kota-kota satelit Jakarta.
Masih teringat jelas, setahun lalu, sebelum BlackBerry menjadi wabah di kalangan menengah ke atas, KRL (Kereta Rel Listrik) Ekspress suasananya tidak terlalu jauh dari KRL Ekonomi, masih riuh dengan suara obrolan di kiri-kanan. Para pekerja tersebut kebanyakan sibuk bercengkrama dengan teman satu kereta, dari perbincangan seputar pekerjaan sampai masalah anak bagi ibu-ibu. Namun sejak BlackBerry laris manis seperti kacang goreng, KRL Ekspress menjadi lebih sepi, orang-orang sibuk dengan mainan baru di tangan masing-masing. Interaksi langsung dengan orang sekitar praktis hanya terjadi sesekali. Ya, BlackBerry mulai membuat individu dominan dengan hakikatnya sebagai mahkluk pribadi, dimana relasi sosial langsung mulai divirtualkan.
Kenyataan ini sebenarnya telah disadari oleh beberapa pihak. Jika anda memiliki kesempatan, cobalah search di Facebook, jaringan sosial populer saat ini, dengan kata kunci ”Anti BlackBerry”, akan keluar 18 profile page yang berjudulkan kata kunci tersebut. Atau ganti kata kunci dengan ”Say No to BlackBerry”, maka akan terlihat 8 page yang berbunyi serupa. Page tersebut berisi berbagai kritikan yang menganggap keberadaan BlackBerry justru mengganggu relasi sosial dan kontrol diri individu. Simaklah sebuah kutipan deskripsi dari salah satu grup, “group ini menentang autisme akibat blackberry: kutak-katik blackberry saat pacar lagi ngajak ngobrol, baca2 e-email saat diomelin boss, duduk di toilet berjam-jam bersama blackberry, senyum-senyum sendiri, selalu bekerja tiap weekend, masih e-mail keperluan kantor saat pulang ke rumah, dan tidur sambil memeluk blackberry…”[6]
***
Dampak sosial diatas akan terlihat sebagai pelengkap jika kita mau melihat dalam lingkup yang lebih luas. Fenomena BlackBerry hanya sebuah contoh kecil dari derasnya arus kebudayaan massa atau kebudayaan popular sekarang ini. Contoh lainnya dapat kita sebut seperti serbuan situs jejaring sosial, merek-merek fashion asing, kedai makanan cepat saji, game online dan lain-lain.
Yang kemudian perlu diwaspadai adalah pola konsumerisme yang terbentuk dari adanya kebudayaan popular. Dengan pengguna yang bersifat masif, budaya ini sangat menggiurkan bagi para produsennya karena dapat mendatangkan keuntungan besar. Efek ketergantungan karena merasa membutuhkan instrumen kebudayaan popular terus menerus menjadi tanda awal yang harus segera disikapi. Dari ketergantungan ini lah diharapkan permintaan pasar terhadap produk budaya populer dapat terus meningkat.
Ignatius Haryanto, seorang pengamat media dan kajian kebudayaan dalam salah satu tulisannya juga menyebutkan suatu dampak yang harus diwaspadai dari keberadaan budaya popular ini yaitu pengidentifikasian kepribadian seseorang berdasarkan produk-produk yang dipakainya,
” Bagaimana pun juga sebagai bagian dari mass culture, maka banyak kaum remaja akan menimbang dirinya dan menilai orang lain dari brand yang mereka kenakan. Jika mereka tak mengenakan brand yang sedang hits, mohon maaf kalau disebut ‘nggak cool’, ‘old fashioned’ atau ‘nggak matching’… Tanpa merek terkenal ini, seolah mereka ini bukan (si)apa-apa”[7].
Hal ini pula yang kemudian menjadikan banyak orang berstatus follower alias ikut-ikutan semata tanpa tahu apa yang dia ikuti. Dan golongan ini lah yang menjadi ”sasaran empuk” para produsen kebudayaan popular.
Sebagai suatu kesimpulan sederhana dari tulisan ini, sebuah kebudayaan populer nyatanya tidak menjual produk melainkan sebuah gaya hidup yang dibentuk sedemikian rupa sehingga para penggunanya secara sadar atau tidak sadar dengan sukarela menjadi konsumen aktif demi image yang ditawarkan. Ketika dengan memiliki BlackBerry orang dianggap bisa semakin terbuka wawasannya, karena dengan mudahnya mendapatkan informasi dari mana saja dan kapan saja, sebenarnya di sisi lain si pengguna menjadi tertutup matanya dengan kenyataan bahwa dia adalah korban dari komersialisasi budaya populer. Akhirnya, saya akan mengutip pernyataan Bre Redana yang dengan lihainya menyimpulkan semua keprihatinan diatas menjadi demikian,
”Siklusnya secara sederhana begini: kehidupan diubah menjadi konsumsi, konsumsi menjadi makna, makna menjadi fantasi, fantasi menjadi realitas, realitas menjadi virtual reality alias realitas semu, dan melengkapi siklus itu realitas semu kembali menjadi kehidupan. Akhirnya perbedaan antara realitas dan realitas semu atau fiksi atau fantasi tak ada lagi batasnya”[8]
Kalau sudah demikian rasanya pas untuk berkata, “BlackBerry is My Everything!”
—————-
[1] Kutipan refrain lagu ”Everything”, yang dipopulerkan oleh Michael Buble
[2] “Mike Lazaridis, sang pendiri BlackBerry”, Harian Kompas. 8 Juni 2009, hal 16
[3] Menurut RIM, perusahaan penyedia layanan BlackBerry. Majalah Chip Online (http://www.chip.co.id/gadgets/pertumbuhan-blackberry-di-indonesia.html)
[4] Pernyataan Teguh Prasetya, Group Head Brand Marketing PT Indosat Tbk. (http://www.mallponsel.com/blog/berita/pengguna-blackberry-bakal-capai-1-juta.html)
[5] Tagline BlackBerry dalam websitenya. (www.blackberry.com)
[6] Diambil dari Group “anti autisme akibat BlackBerry” di Facebook (http://www.facebook.com/group.php?sid=e0d701ea23f6e4a264e2ac4430bfb87e&gid=54520233173&ref=search)
[7] Ignatius Haryanto dalam tulisan berjudul “Budaya Populer, Anak Mudan dan Keprihatinan Masalah Bangsa.”, disampaikan pada forum diskusi KOMJak, 30 Mei 2009
[8] Bre Redana, “Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa”, LSPP. 2002
Sumber : http://komjakarta.org/blackberry-my-everything.html
One Response for "BlackBerry, My Everything!"
I love BlackBerry too
Leave a reply